Harga Pasar (update terakhir:) :
Babi Besar/ekor = Rp.5000000     (klik untuk melihat detail) - Bawang Merah/kg = Rp.35000     (klik untuk melihat detail) - Bawang Putih/kg = Rp.100000     (klik untuk melihat detail) - Beras/kg = Rp.12000     (klik untuk melihat detail) - Cabe Merah/kg = Rp.35000     (klik untuk melihat detail) - Cengkeh Kering/kg = Rp.115000     (klik untuk melihat detail) - Daging Ayam/kg = Rp.65000     (klik untuk melihat detail) - Daging Babi/kg = Rp.80000     (klik untuk melihat detail) - Daging Sapi/kg = Rp.110000     (klik untuk melihat detail) - Garam /kg = Rp.10000     (klik untuk melihat detail) - Gula Pasir/kg = Rp.16000     (klik untuk melihat detail) - Ikan Kembung/kg = Rp.50000     (klik untuk melihat detail) - Ikan Selar/kg = Rp.25000     (klik untuk melihat detail) - Ikan teri /kg = Rp.120000     (klik untuk melihat detail) - Ikan Tuna/kg = Rp.70000     (klik untuk melihat detail) - Jagung giling/kg = Rp.8000     (klik untuk melihat detail) - Kambing /ekor = Rp.1500000     (klik untuk melihat detail) - Kambing/ekor = Rp.1500000     (klik untuk melihat detail) - Kopra/kg = Rp.19000     (klik untuk melihat detail) - Kuda/ekor = Rp.6000000     (klik untuk melihat detail) - Kuda/ekor = Rp.6000000     (klik untuk melihat detail) - Minyak Goreng/Liter = Rp.16000     (klik untuk melihat detail) - Minyak Tanah/Liter = Rp.5000     (klik untuk melihat detail) - Minyak Tanah/Liter = Rp.5000     (klik untuk melihat detail) - Pupuk /kg = Rp.2300     (klik untuk melihat detail) - Sawi Hijau/kg = Rp.20000     (klik untuk melihat detail) - Semen/Zak = Rp.48500     (klik untuk melihat detail) - Susu Balita/400 gr = Rp.48000     (klik untuk melihat detail) - Telur/papan = Rp.45000     (klik untuk melihat detail) - Tepung Terigu/kg = Rp.10000     (klik untuk melihat detail) - Vanili/kg = Rp.150000     (klik untuk melihat detail) -
PROFIL DAERAH
EKONOMI

Ekonomi Makro


Perkembangan Indikator Ekonomi Makro Daerah

Perkembangan kondisi umum perekonomian merupakan gambaran kinerja makro dari penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Gambaran perkembangan kondisi ekonomi makro ini diharapkan dapat menjadi stimulus bagi semua pihak yang memiliki tanggung jawab dan komitmen  dalam pengeloaaan ekonomi secara efisien dan efektif. Gambaran perkembangan ekonomi makro secara tidak langsung adalah merupakan gambaran prestasi pemerintah dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat.

Ekonomi makro daerah terdiri dari Produk Domestik Bruto, Laju Pertumbuhan Ekonomi, Pendapatan per Kapita, Inflasi dan Investasi.

 

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

PDRB suatu daerah menggambarkan aktifitas produksi dari suatu daerah. PDRB dapat menggunakan dua pendekatan yaitu dari sisi penawaran dan sisi permintaan. Dari sisi penawaran dihitung berdasarkan lapangan usaha menurut sektor dan sisi permintaan dihitung berdasarkan nilai komsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, ekspor dan import. Dari sisi penawaran berdasarkan lapangan usaha terdiri dari 9 (sembilan) sektor yaitu Pertanian, Pertambangan dan Penggalian, Industri pengolahan, Listrik, gas, dan air minum, Bangunan/konstruksi, Perdagangan, Restoran dan hotel,Pengangkutan dan Komsumsi, Keuangan, Persewaan dan jasa perusahaan, danJasa-jasa yang dihitung berdasarkan harga berlaku. 


PDRB Kabupaten Sikka dari tahun 2004 sampai tahun 2009 mengalami peningkatan. Pada tahun 2004 sebesar Rp.851.687.383 menjadi Rp.939.228.989 pada tahun 2005 atau meningkat sebesar 9,3%. Tahun 2006 kembali mengalami peningkatan sebesar Rp.1.049.330.739 meningkat sebesar 10,49 %. Tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar 7,2 % menjadi Rp. 1.131.583.690 dan pada tahun 2008 mengalami peningkatan sebesar Rp. 1.330.850.170 atau meningkat sebesar 14,97%. Pada tahun 2009 PDRB Kabupaten Sikka meningkat menjadi Rp. 1.660.334.300 atau sebesar 19,84% dan angka tersebut berada diatas target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Sikka Tahun 2009 sebesar Rp.836.800.000,-.

 

Berdasarkan data yang ada dari tahun 2004-2009 menunjukkan bahwa di Kabupaten Sikka telah terjadi perubahan struktur ekonomi, yaitu makin dominannya kontribusi sektor sekunder dan sektor tersier/jasa terhadap pembentukan perekonomian kota.

 

Laju Pertumbuhan Ekonomi

Secara nyata kemajuan ekonomi Kabupaten Sikka dapat dilihat dari indikator pertumbuhan ekonomi. Data tersebut memperlihatkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sikka cenderung fluktuatif pada periode 2004 – 2009. Pada tahun 2004 laju pertumbuhan ekonomi mencapai 4,57 % dan pada tahun 2005 kembali menurun menjadi 3,54 % dan pada tahun 2006 meningkat menjadi 4,20 % dan pada tahun 2008 kembali meningkat sebesar 4,00 % dan pada tahun 2009 sebesar 3,63. Penurunan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2005 secara nasional disebabkan oleh karena kenaikan BBM yang memicu terjadinya inflasi dan berdampak pada berkurangnya daya beli masyarakat.


Pendapatan per Kapita

Dari tahun ke tahun pendapatan per kapita penduduk Kabupaten Sikka atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2003 sebesar Rp.2.692.798,00. Kenaikan juga terjadi pada tahun 2004 yaitu menjadi sebesar Rp.2.970.100,00, sedangkan pada tahun 2005 naik menjadi sebesar Rp.3.222.660,00, pada tahun 2006 naik menjadi sebesar Rp.3.572.587,00, pada tahun 2007 naik menjadi sebesar Rp. 3.851.123,00. Pada tahun 2008 juga mengalami kenaikan sebesar Rp.4.502.448 dan pada tahun 2009 naik sebesar Rp.4.672.746,00. 


Inflasi

Harga, indeks harga dan laju inflasi merupakan beberapa indikator dalam mengamati kondisi perekonomian makro suatu wilayah. Pada gilirannya indikator-indikator tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyusun berbagai kebijakan di berbagai bidang pembangunan.

Laju inflasi adalah suatu besaran yang menggambarkan persentase perubahan harga pada suatu waktu  dengan harga pada waktu sebelumnya. Laju inflasi juga sering dipakai sebagai indikator untuk mengamati stabilitas ekonomi khususnya dari sisi harga. 


Harga, indeks harga dan laju inflasi merupakan beberapa indikator dalam mengamati kondisi perekonomian makro suatu wilayah. Pada gilirannya indikator-indikator tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyusun berbagai kebijakan di berbagai bidang pembangunan.

 

Laju inflasi Kota Maumere pada rentang tahun 2003-2009 terlihat fluktuatif. Pada tahun 2003, inflasi Kota Maumere adalah 7,84%, angka ini di atas angka inflasi Indonesia yaitu sebesar 6,9%. Sementara itu, pada tahun 2004 laju inflasi Kota Maumere naik menjadi 8,87%, sedangkan angka inflasi Indonesia justru turun menjadi 6,0%. Pada tahun 2005, laju inflasi Kota Maumere naik secara tajam menjadi 11,98%, kenaikan yang sama juga dialami Indonesia yaitu sebesar 10,40%. Pada tahun 2006, secara drastis inflasi di Kota Maumere turun secara drastis menjadi  2,40%, sebaliknya laju inflasi Indonesia justru naik menjadi 13,30% dan pada tahun 2007 laju inflasi Kabupaten Sikka sebesar 1,15 % sedangkan Nasional sebesar 1,10% (lihat Gambar 2.5). Pada tahun 2008, secara drastis inflasi di Kota Maumere turun secara drastis menjadi  0,63%, sebaliknya laju inflasi Indonesia justru naik menjadi 11,06 % dan pada tahun 2009 laju inflasi Kabupaten Sikka turun menjadi 1,40 % sedangkan Nasional sebesar 2,57%

 

 

Investasi

Keberadaan investor baik investor domestik (PMDN) maupun investor asing (PMA) secara umum dapat memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi daerah antara lain melalui penyerapan tenaga kerja dan pembangunan infrastruktur yang dapat mendorong meningkatnya pendapatan perkapita penduduk.


Fiskal Daerah

Desentralisasi fiskal merupakan salah satu kebijakan untuk memberikan pelayanan publik yang lebih baik karena adanya kewenangan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Terwujudnya pelaksanaan desentralisasi fiskal  yang efisien dan efektif sangat tergantung pada pengelolaan keuangan daerah baik dari aspek penerimaan maupun pengeluaran. 



Perekonomian Daerah (Ekonomi Mikro)


Industri

Industri di Kabupaten Sikka dapat dibagi ke dalam beberapa kategorial yaitu industri kecil, industri menengah dan besar, yang kemudian dirinci berdasarkan jumlah unit usaha tenaga kerja dan nilai produksi.


Perdagangan

Sarana perdagangan Kabupaten Sikka terdiri dari supermarket, departemen store, pasar tradisional, pasar lokal/desa, pertokoan, warung dan kios.


Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah

Perkembangan jumlah koperasi dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Program dan kegiatan pemerintah selalu diarahkan pada terwujudnya Sikka sebagai Kabupaten Koperasi. Jumlah anggota koperasi KUD sebanyak 100 orang dan jumlah anggota non koperasi sebanyak 66,844 orang. 


Lembaga Keuangan

Lembaga keuangan mempunyai peran yang cukup penting dalam mendorong percepatan laju pertumbuhan ekonomi di daerah. Peran lembaga keuangan erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan dana bagi masyarakat dalam berinvestasi.

Baca juga