Jumlah ODGJ dan Kasus Bunuh Diri di Sikka Meningkat, Dinkes dan Yayasan PAPHA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor
<p>Maumere_sikkakab.go.id,- Masalah kesehatan jiwa di Kabupaten Sikka kini berada pada level yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data terbaru, jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan angka kasus bunuh diri terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun.
Menyikapi kondisi ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka bekerja sama dengan Yayasan Payung Perjuangan Humanis (PAPHA) Indonesia melalui Proyek BERSAHAJA menggelar Rapat Koordinasi Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) tingkat Kabupaten Sikka, Rabu (13/05/2026) di Aula Egon Lantai 3 Kantor Bupati Sikka.
Sinergi Lintas Sektor
Dalam laporannya, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, dr.Marietha L.D Weni mengungkapkan bahwa penanganan kesehatan jiwa tidak bisa hanya bertumpu pada sektor medis, melainkan harus melibatkan peran aktif Dinas Sosial, Kepolisian, hingga pemerintah di tingkat kecamatan.
dr. Marietha memaparkan sejumlah data krusial yang mendasari urgensi pertemuan ini :
Tren ODGJ : Terjadi kenaikan bertahap dari 1.179 orang (2023) menjadi 1.220 (2024), 1.241 (2025), dan mencapai 1.236 orang hanya pada Triwulan I 2026.
Sementara Kasus Bunuh Diri : Dalam tiga tahun terakhir, tercatat 25 kasus bunuh diri dan puluhan percobaan bunuh diri.
Prevalensi Regional : Angka gangguan kesehatan mental di NTT mencapai 7,4%, melampaui rata-rata nasional sebesar 6,2%.
Melalui kolaborasi dengan Yayasan PAPHA Indonesia, pemerintah daerah menetapkan beberapa poin komitmen, di antaranya :
Ekspansi TPKJM ke Kecamatan, ?Penghapusan Stigma, dan ?Integrasi Layanan.
Pertemuan ini diharapkan menjadi titik balik bagi perbaikan sistem layanan kesehatan jiwa di Sikka demi memberikan perlindungan terbaik bagi seluruh lapisan masyarakat.
Rapat koordinasi ini dibuka oleh Plh. Sekda Sikka Rudolfus Ali. Dalam sambutan pembukaan Rudolf Ali menegaskan bahwa penanganan kesehatan jiwa merupakan tanggung jawab lintas sektor yang memerlukan sinergi antara aspek medis dan sosial dan mengharapkan kordinasi ini mampu memberikan rekomendasi positif bagi Pemerintah.
Turut hadir dalam kesempatan ini Pimpinan OPD terkait, para camat, para kepala puskesmas, Tenaga Medis, dan Tim Yayasan PAPPHA.* (AST)</p>
Menyikapi kondisi ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka bekerja sama dengan Yayasan Payung Perjuangan Humanis (PAPHA) Indonesia melalui Proyek BERSAHAJA menggelar Rapat Koordinasi Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) tingkat Kabupaten Sikka, Rabu (13/05/2026) di Aula Egon Lantai 3 Kantor Bupati Sikka.
Sinergi Lintas Sektor
Dalam laporannya, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, dr.Marietha L.D Weni mengungkapkan bahwa penanganan kesehatan jiwa tidak bisa hanya bertumpu pada sektor medis, melainkan harus melibatkan peran aktif Dinas Sosial, Kepolisian, hingga pemerintah di tingkat kecamatan.
dr. Marietha memaparkan sejumlah data krusial yang mendasari urgensi pertemuan ini :
Tren ODGJ : Terjadi kenaikan bertahap dari 1.179 orang (2023) menjadi 1.220 (2024), 1.241 (2025), dan mencapai 1.236 orang hanya pada Triwulan I 2026.
Sementara Kasus Bunuh Diri : Dalam tiga tahun terakhir, tercatat 25 kasus bunuh diri dan puluhan percobaan bunuh diri.
Prevalensi Regional : Angka gangguan kesehatan mental di NTT mencapai 7,4%, melampaui rata-rata nasional sebesar 6,2%.
Melalui kolaborasi dengan Yayasan PAPHA Indonesia, pemerintah daerah menetapkan beberapa poin komitmen, di antaranya :
Ekspansi TPKJM ke Kecamatan, ?Penghapusan Stigma, dan ?Integrasi Layanan.
Pertemuan ini diharapkan menjadi titik balik bagi perbaikan sistem layanan kesehatan jiwa di Sikka demi memberikan perlindungan terbaik bagi seluruh lapisan masyarakat.
Rapat koordinasi ini dibuka oleh Plh. Sekda Sikka Rudolfus Ali. Dalam sambutan pembukaan Rudolf Ali menegaskan bahwa penanganan kesehatan jiwa merupakan tanggung jawab lintas sektor yang memerlukan sinergi antara aspek medis dan sosial dan mengharapkan kordinasi ini mampu memberikan rekomendasi positif bagi Pemerintah.
Turut hadir dalam kesempatan ini Pimpinan OPD terkait, para camat, para kepala puskesmas, Tenaga Medis, dan Tim Yayasan PAPPHA.* (AST)</p>