Kilas Balik 125 Tahun SDK Lela 1

Dibaca 155 kali Administrator Senin, 15 April 2024 - 09:58:04 WITA Berita

sikkakab.go.id,- Kilas Balik 125 Tahun SDK Lela 1 (18 Pebruari 1897 - 18 Pebruari 2024) : Mengenang Lela Sebagai Sentra Pendidikan Flores

Sebagai lembaga pendidikan tua Flores yang menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, SDK Lela 1 telah mengukir keharuman di setiap sosok yang pernah mengenyam pendidikan dari rahim lembaga ini. Dan di tengah gemuruh dan energi perayaan HUT ke-125 pada Minggu, 14 April 2024 di Lela maka adalah momentum yang tepat juga untuk mengetahui kiprah sejarah perjalanan 125  Tahun SDK Lela 1 yang berawal dari Standaardschool, kemudian VVS, dan SR Lela 1. 

Berikut kami ulas dalam catatan sejarah singkatnya.   Vicaris Apostolic Batavia atau sekarang KA Jakarta, Y.M. Mgr. Edmundus  Sybrandus Luypen, SJ sejak awal sudah meramalkan bahwa Lela  tempat yang terbaik untuk karya misi, karena letaknya yang tampan, alamnya yang segar lagi nyaman. 

Bahwa Lela akan menjadi besar di wilayah ini. Hal ini dapat dibuktikan sesudah puluhan tahun di mana para imam dari Ordo Jesuit dan para suster dari Serikat Van Liefde (Belas Kasih), para misionaris Serikat Sabda Allah (SVD), Kongregasi Suster Abdi Roh Kudus (SsPs) mulai merintis beberapa karya misi gereja dalam bidang pembinaan iman, ketrampilan, pendidikan dan kesehatan. Secara khusus Perintisan karya misi gereja  katolik di Lela dalam bidang pendidikan melalui Standardschool dapat diuraikan sebagai berikut : 
Lembaga pendidikan bersejarah Standaardschool Lela didirikan tahun 1897 oleh Pater Edmundus Sybrandus Luypen, SJ. Standaardschool Lela merupakan sekolah resmi pertama Flores dan Sikka yang menerapkan kurikulum berbasis Eropa. Pater Edmundus menjadikan Standaardschool Lela ini sebagai sentra sekaligus model bagi pengembangan pendidikan modern di Flores.

Keputusan Lela menjadi lokasi pembangunan standaardschool didasari keputusan Y.M. Uskup Batavia  tahun 1897 agar Sekolah Standaard dari Maumere di pindahkan ke Lela, berhubung Maumere terancam oleh malaria yang menelan puluhan imam, suster, dan para murid. Sesudah bangunan disiapkan, murid-murid bersama para guru, bruder, berpindah dari Maumere ke Lela. Menyusul pada tahun 1899 datang gelombang kedua terdiri dari para suster Belas Kasih bersama para siswi. Kompleks bagian atas pastoran Lela semakin dipadati.

Setiap hari sibuk dengan pembangunan kompleks baru dibawah bimbingan para bruder, bersama Raja Sikka Andreas Jati da Silva, dan pembantunya raja muda Yoseph Mbako da Silva. Pada tanggal 17 Pebruari 1897 Pater Edmund Sybrandum Luypen, SJ, berangkat dengan kapal London melalui Larantuka menuju Lela, dengan muatan ramuan serta bangku-bangku sekolah untuk keperluan sekolah dan gereja baru.

Pada tanggal 18 Pebruari 1897 hari esoknya dibawah pimpinan Bruder Amatus, 80 murid laki-laki mengadakan suatu barisan gerak jalan menuju Lela melalui Koting. Siang harinya mereka beristirahat di Koting, sesudah itu perjalanan diteruskan ke Lela serta tiba di Lela pada sore hari jam 5.00.

Hanya seorang anak lari di tengah jalan tanpa lapor dan kembali ke kampungnya. Umat Lela sangat berbangga karena sekolah yang baru telah ada dibawah asuhan suster, pastor, dan bruder. Ramai-ramailah orang tua datang menghantar anak mereka disekolahkan untuk belajar di Lela. Selain itu yang putri belajar menjahit, menyulam, dan memasak masakan Eropa. Setelah mendirikan Standaardschool Lela setahun kemudian pada Mei 1898 Pater Edmund Sybrandus, SJ diangkat menjadi Vicaris Apostolic Batavia.

Lela, kampung kecil yang semula sebagai kampung nelayan dan tani kini menjelma menjadi taman pendididkan bagi orang Flores. Pada tahun1932 Standard School berubah menjadi Vervogschool yang disingkat VVS Lela. 
Untuk Meningkatkan kualitas tenaga guru yang akan dikirim ke daratan Flores pada tahun 1922 Direktur Standaardschool Pater Bartholdus Fries, SVD mendapat ijin untuk membuka Kursus Pendidikan Untuk Guru di Lela yang disebut CVO ( Cursus voor Onderwyzer).

Hal ini perlu untuk menambah tenaga guru yang lebih berkualitas karena banyak tenaga guru hanya tamatan standaardschool atau menerima ijazah verklaring atau kwekeling. Yang berijazah kweekschool jumlahnya sangat terbatas, dan satu dua berasal dari Menado yang sebentar lagi akan pulang ke Minahasa.

Dengan alasan ini kursus baru harus dibuka. Beberapa guru muda yang telah praktek lapangan kembali mengikuti kursus untuk mendapatkan   Ijazah   CVO  tersebut.  Pada  tahun    1923  CVO sudah menghasilkan angkatan tahun pertama. Kursus Pendidikan untuk Guru di Lela ini berjalan terus sampai dengan tahun 1932.

Karena krisis Malaise yang terjadi tahun 1932 dimana pemerintah harus melakukan penghematan maka CVO di Lela ditutup dan dilanjutkan di Ndona. Tentang Standaardschool Lela, awalnya hanya dikhususkan bagi anak-anak pria, pengajarnya imam dan guru-guru pria. Barulah 20 tahun kemudian (tahun 1917) dibangun sekolah bagi anak-anak perempuan yang ditangani oleh biarawati SspS. Selain pelajaran membaca, menulis, berhitung, siswa juga diajarkan musik, praktik ketrampilan, dan olahraga.

Standaardschool/VVS Lela bagi anak laki-laki kemudian dikenal sebagai SR Lela 1/SDK Lela I, sedangkan Standaardschool bagi anak perempuan dikenal sebagai SDK Lela II. Dalam rentang 125 Tahun ini SDK Lela 1 telah menghasilkan para alumnus yang dikenal sebagai tokoh-tokoh penting di Flores, NTT, maupun nasional  dalam bidang politik dan pemerintahan, pendidikan, agama, dan bidang lain nya. Sebut saja beberapa tokoh sbb :
1. Raja Don Thomas da Silva, Raja Sikka ke-14 yang memerintah dari 1920 s/d 1954 sekaligus kepala Daerah Flores Pertama
   1948 s/d 1952.
2. Paulus Samador Da Cunha, Bupati Sikka pertama 1960 -1967
3. Drs. Frans Seda, tokoh nasional. Setelah tamat SR Lekebai melanjutkan pendidikan Standardschool Lela selanjutnya ke Ndao.
4. Drs. Daniel Woda Pale, Bupati Sikka ke-3
4. Drs. A.M. Conterius, Bupati Sikka Ke-4
5. Drs. A.M. Keupung, Pejabat Birokrat penting Lingkup pemerintah Kabupaten Sikka dan Ketua DPRD Kabupaten Sikka
    2008-2013
6. P. Dr. Ozias Fernandez, pernah menjabat sebagai Rektor Seminari Tinggi St. Petrus Ledalero
7. Mgr. Gerulfus Kherubim Parera, SVD
8. Mgr. Abdon Longginus da Cunha
9. Prof.Dr. Antonius Bartholdus  Parera, O, Carm pernah menjadi Retor STFK Widya Sasana Malang
10. Chrisiner Keytimu, Tokoh nasional, anggota Petisi 50
11. Prof. Dr. Paulinus Soge, SH, Mahaguru pada Unika Atmajaya Jogyakarta
12. Georgius Soter Parera, SH, M.Ph, mantan Kanwil BKKBN Provinsi NTT.
13. E. P. Da Gomez, politisi dan penulis
14. Oscar Mandalangi Parera, penulis dan budayawan
15. Ans Gregory Da Iri, penulis dan wartawan.
16. Adrianus Firminus Parera, SE, M.Si, Penjabat Bupati Sikka sekarang, dan masih banyak jebolan SDK Lela 1 yang
      menjadi tokoh dan sosok kenamaan yang tidak  disebutkan satu per satu.

Demikian ringkasan sejarah SDK Lela 1 beserta beberapa tokoh penting yang lahir dari kandungan almamater ini. Kiranya ilham peringatan 125 Tahun ini semakin memperkokoh SDK Lela 1 sebagai lembaga pendidikan berkualitas untuk melahirkan insan muda yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dengan jiwa dan spiritualitas katolik kuat yang siap menjadi terang dan garam dunia.

Dan semoga spirit "Non Scholae, Sed Vitae Discimus" , Kita belajar bukan untuk sekolah melainkan untuk hidup, Pepatah Latin kuno  yang dicetuskan oleh Seneca ( 4 seb. M – 65, seorang filsuf dan pujangga Romawi) tetap hidup dan menggema  dalam diri dan sosok para  pencari ilmunya sehingga selalu melahirkan pribadi yang berkarakter dan menjadikan lembaga pendidikan SDK Lela 1 sebagai "Lepo Bisa Woga Ngaisiang", yang bermakna Istana Megah  Ilmu Pengetahuan Yang Mencerdaskan.* (selsi).


Statistik Web