Profil Kabupaten


Secara administrasi Kabupaten Sikka berbatasan dengan :
 Sebelah Utara          :  Laut Flores
 Sebelah Timur          :  Kabupaten  Flores Timur
 Sebelah Selatan       :  Laut Sawu
 Sebelah Barat          :  Kabupaten  Ende
 
Kabupaten Sikka terdiri dari 21 kecamatan yang meliputi 147 desa dan 13 kelurahan, dan  mempunyai luas wilayah 7.552,91  Km2 yang terdiri dari  1.731,91 Km2 luas daratan  dan  5.821 Km2 luas lautan. Kecamatan yang mempunyai jumlah desa terbanyak adalah Talibura dengan 12 desa dan kecamatan yang paling sedikit desanya adalah Mapitara dengan 4 desa.
 
Sebelum Tahun 2007, Kabupaten Sikka terdiri dari 12 Kecamatan, seiring dengan diberlakukan UU Otonomi Daerah terjadi pemekaran wilayah kecamatan menjadi 21 kecamatan. Sembilan (9) kecamatan baru hasil pemekaran tersebut yaituh ; Waiblama, Alok Timur, Alok Barat, Kangae, Hewokloang, Doreng, Mapitara, Tanawawo, Koting.
 
Kabupaten Sikka merupakan wilayah kepulauan dengan 18 pulau baik yang didiami maupun tidak, dimana pulau terbesar adalah Pulau Besar. Juga terdiri atas beberapa pulau sedang dan kecil yaitu Pulau Babi/Bater, Pangabatang, Kambing, Pemana Besar, Damhila, Permaan, Besar, Palue,  dan Sukun. Dari 18 pulau yang tersebar di Kabupaten Sikka, sebanyak 9 pulau merupakan pulau berpenghuni dan 9 pulau lainnya tidak berpenghuni.
 


Sarana informasi yang tersedia di Kabupaten Sikka terdiri dari 1 relay TV(TVRI), 2 radio, 3 koran dan akses internet lewat Telkom, Indosat. Penambahan channel atau kapasitas Internet bisa lewat satelit. Sarana komunikasi yang tersedia terdiri dari jalur telepon (di wilayah perkotaan), jaringan telepon genggam (semua kecamatan terlayani) dan kantor pos (1 pusat dan 5 pembantu). 
 
Jaringan listrik di Kabupaten Sikka hanya melayani kira-kira 47,98% dari semua rumah tangga. Seperti di seluruh Pulau Flores, untuk pembangkitan listrik masih digunakan generator diesel (PLTD), dengan jaringan terpisah. Karena kekurangan daya jaringan listrik sering dipadamkan.
Pada tahun 2010 tenaga listrik yang dibangkitkan sebesar 35.310.179 Kwh, sedangkan jumlah tenaga listrik yang dijual sebesar 32.526.962 Kwh.
Penyediaan BBM sering difasilitasi oleh 5 SPBU dan beberapa depot minyak tanah yang semuanya berlokasi di kota Maumere.

Perusahaan air minum PDAM baru melayani 40,18 % dari seluruh rumah tangga di Kabupaten Sikka, terutama di kota Maumere, tetapi dengan sistem IKK di Nita, Lela, Kewapante, Bola, dan Paga. Kebutuhan air bersih penduduk yang tidak terjangkau pelayanan air bersih perpipaan terpenuhi dari sumur dangkal dan dalam, PAH dan mata air. 
Pada tahun 2010 jumlah pelanggan air minum di Kabupaten Sikka berjumlah 9.315 yang didominasi oleh pelanggan non niaga. Sementara nilai pemakaian air minum di tahun 2010 mencapai Rp. 4.073.413.070.

Irigasi di Kabupaten Sikka terdapat pada kawasan dataran banjir dan dataran pantai, yakni hanya 3 wilayah yang ada di Nebe, Waigete, dan Waturia. Drainase yang ada terbatas pada lingkungan perkotaan dan jalan-jalan utama, sebagian besar merupakan drainase terbuka. Sistem drainase kurang terpelihara.

Dari total rumah tangga, baru 40% pemilik sarana santasi, sisanya membuang limbahnya ke lingkungan sekitar, baik pekarangan, kebun, sungai atau laut. Belum ada fasilitas pengolahan air limbah atau lumpur tinja terpusat. Belum ada informasi tentang pengelolaan limbah non rumah tangga, seperti industri, perhotelan dan rumah sakit.

Sebagian besar penduduk membuang sampah dengan cara membakar, menimbun atau membuang langsung ke lahan lingkungan. Di perumahan, perkantoran, perdagangan telah disediakan tempat sampah, bak sampah, kemudian diangkut oleh gerobak sampah dan truk sampah untuk selanjutnya dibuang ke TPA, yang berada di Kecamatan Magepanda.

Sedangkan Berdasarkan hasil sensus penduduk pada tahun 2010, jumlah Penduduk Kabupaten Sikka adalah 300.328 jiwa. 
Dengan luas wilayah sekitar 1.731,91 km2 sebenarnya dapat dikatakan distribusi penduduk di Kabupaten Sikka belum merata. Jika dilihat kepadatan penduduk yang ada di Tabel 3.1 terlihat bahwa kepadatan tertinggi ada pada kecamatan Alok yaitu sekitar 2.258 jiwa perkilometer persegi padahal luas wilayahnya hanya sekitar 0,84 persen saja dari luas Sikka secara keseluruhan. Kecamatan Talibura yang mempunyai wilayah paling luas tingkat kepadatan penduduknya hanya sekitar 79 jiwa pekilometer persegi.

Kepadatan penduduk yang begitu tinggi di Kecamatan Alok sebenarnya bisa dimaklumi karena Alok merupakan ibukota Kabupaten Sikka dimana hampir seluruh kegiatan ekonomi dan pemerintahan terpusat di sini.

Jika dilihat rasio jenis kelamin maka untuk semua kecamatan mempunyai rasio jenis kelamin kurang dari 100 hal ini menunjukkan bahwa penduduk perempuan lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan penduduk laki-laki. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa harapan hidup perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.

KELAHIRAN DAN KEMATIAN 
Tingkat kelahiran di Kabupaten Sikka tampaknya sudah mulai mengalami penurunan dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya. Keberhasilan pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB) juga menjadi salah satu faktor pendorong penurunan angka kelahiran.

Jumlah penduduk Kabupaten Sikka dari tahun ke tahun terus mengalami pertumbuhan. Pertambahan penduduk Kabupaten Sikka  tidak lepas dari beberapa variabel penarik (pull) dalam aspek ketenagakerjaan seperti kondisi dunia usaha, pendidikan sekolah dan luar sekolah, budaya masyarakat, kondisi pasar global, kondisi ekonomi, perkembangan teknologi dan peran lembaga pemerintah (kolektif).
 
Pada Tahun 2002 jumlah penduduk Kabupaten Sikka sebanyak 263.384  jiwa meningkat 11.155 jiwa pada tahun 2003 menjadi 274.539 jiwa atau meningkat sebesar 4,2%. Tahun 2004 meningkat sebanyak 1.118 jiwa menjadi 276.057 atau meningkat sebesar 0,4%. Pada tahun 2005 meningkat 13.847 jiwa menjadi 289.904 jiwa atau meningkat sebesar 5%.
 
Pada tahun 2006 jumlah penduduk  sebanyak 290.742 jiwa atau meningkat sebesar 2,2% dan pada tahun 2007 meningkat menjadi 304.541 jiwa atau meningkat sebesar 4,7% dan menurun pada tahun 2008 sebanyak 295.134 jiwa atau menurun sebesar 3,2 % dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 301.963 jiwa atau meningkat sebesar 2,3 % (lihat Gambar 2.7), sedangkan rata-rata kepadatan penduduk 174,35 jiwa per Km². Sementara itu, dari  yang ada ini 35.979 jiwa adalah Rumah Tangga Miskin.

Ekonomi Makro


Perkembangan Indikator Ekonomi Makro Daerah

Perkembangan kondisi umum perekonomian merupakan gambaran kinerja makro dari penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Gambaran perkembangan kondisi ekonomi makro ini diharapkan dapat menjadi stimulus bagi semua pihak yang memiliki tanggung jawab dan komitmen  dalam pengeloaaan ekonomi secara efisien dan efektif. Gambaran perkembangan ekonomi makro secara tidak langsung adalah merupakan gambaran prestasi pemerintah dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat.

Ekonomi makro daerah terdiri dari Produk Domestik Bruto, Laju Pertumbuhan Ekonomi, Pendapatan per Kapita, Inflasi dan Investasi.

 

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

PDRB suatu daerah menggambarkan aktifitas produksi dari suatu daerah. PDRB dapat menggunakan dua pendekatan yaitu dari sisi penawaran dan sisi permintaan. Dari sisi penawaran dihitung berdasarkan lapangan usaha menurut sektor dan sisi permintaan dihitung berdasarkan nilai komsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, ekspor dan import. Dari sisi penawaran berdasarkan lapangan usaha terdiri dari 9 (sembilan) sektor yaitu Pertanian, Pertambangan dan Penggalian, Industri pengolahan, Listrik, gas, dan air minum, Bangunan/konstruksi, Perdagangan, Restoran dan hotel,Pengangkutan dan Komsumsi, Keuangan, Persewaan dan jasa perusahaan, danJasa-jasa yang dihitung berdasarkan harga berlaku. 


PDRB Kabupaten Sikka dari tahun 2004 sampai tahun 2009 mengalami peningkatan. Pada tahun 2004 sebesar Rp.851.687.383 menjadi Rp.939.228.989 pada tahun 2005 atau meningkat sebesar 9,3%. Tahun 2006 kembali mengalami peningkatan sebesar Rp.1.049.330.739 meningkat sebesar 10,49 %. Tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar 7,2 % menjadi Rp. 1.131.583.690 dan pada tahun 2008 mengalami peningkatan sebesar Rp. 1.330.850.170 atau meningkat sebesar 14,97%. Pada tahun 2009 PDRB Kabupaten Sikka meningkat menjadi Rp. 1.660.334.300 atau sebesar 19,84% dan angka tersebut berada diatas target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Sikka Tahun 2009 sebesar Rp.836.800.000,-.

 

Berdasarkan data yang ada dari tahun 2004-2009 menunjukkan bahwa di Kabupaten Sikka telah terjadi perubahan struktur ekonomi, yaitu makin dominannya kontribusi sektor sekunder dan sektor tersier/jasa terhadap pembentukan perekonomian kota.

 

Laju Pertumbuhan Ekonomi

Secara nyata kemajuan ekonomi Kabupaten Sikka dapat dilihat dari indikator pertumbuhan ekonomi. Data tersebut memperlihatkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sikka cenderung fluktuatif pada periode 2004 – 2009. Pada tahun 2004 laju pertumbuhan ekonomi mencapai 4,57 % dan pada tahun 2005 kembali menurun menjadi 3,54 % dan pada tahun 2006 meningkat menjadi 4,20 % dan pada tahun 2008 kembali meningkat sebesar 4,00 % dan pada tahun 2009 sebesar 3,63. Penurunan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2005 secara nasional disebabkan oleh karena kenaikan BBM yang memicu terjadinya inflasi dan berdampak pada berkurangnya daya beli masyarakat.


Pendapatan per Kapita

Dari tahun ke tahun pendapatan per kapita penduduk Kabupaten Sikka atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2003 sebesar Rp.2.692.798,00. Kenaikan juga terjadi pada tahun 2004 yaitu menjadi sebesar Rp.2.970.100,00, sedangkan pada tahun 2005 naik menjadi sebesar Rp.3.222.660,00, pada tahun 2006 naik menjadi sebesar Rp.3.572.587,00, pada tahun 2007 naik menjadi sebesar Rp. 3.851.123,00. Pada tahun 2008 juga mengalami kenaikan sebesar Rp.4.502.448 dan pada tahun 2009 naik sebesar Rp.4.672.746,00. 


Inflasi

Harga, indeks harga dan laju inflasi merupakan beberapa indikator dalam mengamati kondisi perekonomian makro suatu wilayah. Pada gilirannya indikator-indikator tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyusun berbagai kebijakan di berbagai bidang pembangunan.

Laju inflasi adalah suatu besaran yang menggambarkan persentase perubahan harga pada suatu waktu  dengan harga pada waktu sebelumnya. Laju inflasi juga sering dipakai sebagai indikator untuk mengamati stabilitas ekonomi khususnya dari sisi harga. 


Harga, indeks harga dan laju inflasi merupakan beberapa indikator dalam mengamati kondisi perekonomian makro suatu wilayah. Pada gilirannya indikator-indikator tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyusun berbagai kebijakan di berbagai bidang pembangunan.

 

Laju inflasi Kota Maumere pada rentang tahun 2003-2009 terlihat fluktuatif. Pada tahun 2003, inflasi Kota Maumere adalah 7,84%, angka ini di atas angka inflasi Indonesia yaitu sebesar 6,9%. Sementara itu, pada tahun 2004 laju inflasi Kota Maumere naik menjadi 8,87%, sedangkan angka inflasi Indonesia justru turun menjadi 6,0%. Pada tahun 2005, laju inflasi Kota Maumere naik secara tajam menjadi 11,98%, kenaikan yang sama juga dialami Indonesia yaitu sebesar 10,40%. Pada tahun 2006, secara drastis inflasi di Kota Maumere turun secara drastis menjadi  2,40%, sebaliknya laju inflasi Indonesia justru naik menjadi 13,30% dan pada tahun 2007 laju inflasi Kabupaten Sikka sebesar 1,15 % sedangkan Nasional sebesar 1,10% (lihat Gambar 2.5). Pada tahun 2008, secara drastis inflasi di Kota Maumere turun secara drastis menjadi  0,63%, sebaliknya laju inflasi Indonesia justru naik menjadi 11,06 % dan pada tahun 2009 laju inflasi Kabupaten Sikka turun menjadi 1,40 % sedangkan Nasional sebesar 2,57%

 

 

Investasi

Keberadaan investor baik investor domestik (PMDN) maupun investor asing (PMA) secara umum dapat memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi daerah antara lain melalui penyerapan tenaga kerja dan pembangunan infrastruktur yang dapat mendorong meningkatnya pendapatan perkapita penduduk.


Fiskal Daerah

Desentralisasi fiskal merupakan salah satu kebijakan untuk memberikan pelayanan publik yang lebih baik karena adanya kewenangan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Terwujudnya pelaksanaan desentralisasi fiskal  yang efisien dan efektif sangat tergantung pada pengelolaan keuangan daerah baik dari aspek penerimaan maupun pengeluaran. 



Perekonomian Daerah (Ekonomi Mikro)


Industri

Industri di Kabupaten Sikka dapat dibagi ke dalam beberapa kategorial yaitu industri kecil, industri menengah dan besar, yang kemudian dirinci berdasarkan jumlah unit usaha tenaga kerja dan nilai produksi.


Perdagangan

Sarana perdagangan Kabupaten Sikka terdiri dari supermarket, departemen store, pasar tradisional, pasar lokal/desa, pertokoan, warung dan kios.


Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah

Perkembangan jumlah koperasi dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Program dan kegiatan pemerintah selalu diarahkan pada terwujudnya Sikka sebagai Kabupaten Koperasi. Jumlah anggota koperasi KUD sebanyak 100 orang dan jumlah anggota non koperasi sebanyak 66,844 orang. 


Lembaga Keuangan

Lembaga keuangan mempunyai peran yang cukup penting dalam mendorong percepatan laju pertumbuhan ekonomi di daerah. Peran lembaga keuangan erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan dana bagi masyarakat dalam berinvestasi.


Pembangunan sektor kebudayaaan lebih difokuskan pada pelestarian dan pengembangan potensi-potensi kebudayaan antara lain pembinaan sanggar seni dan atraksi budaya, peninggalan situs bersejarah dan artefak kepurbakalaan dan melestarikan nilai budaya yang tercermin melalui bahasa dan etnis. Potensi budaya di Kabupaten Sikka meliputi 60 sanggar seni budaya, 93 buah atraksi wisata budaya, 25 buah situs bersejarah, 5 bahasa lokal, dan 5 suku/etnis.


Pada tahun 2010 jumlah penduduk yang terdaftar sebagai murid di berbagai jenjang pendidikan relatif telah menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Hal ini terlihat pada tabel yang menampilkan jumlah murid, guru, sekolah dan rasio masing-masingnya. Pada tahun 2010 rasio guru sekolah untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) adalah 10,2 artinya secara rata-rata setiap 1 sekolah mempunyai 10,2 orang guru. Sedangkan untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah 15,5 dan untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah 29,76.



Semakin tinggi rasio guru sekolah menandakan semakin banyak guru yang tertampung dan berpengaruh terhadap beban mengajarnya. Tujuan Pendidikan Dasar adalah untuk menurunkan Angka Buta Huruf, pada tahun 2010 terdapat sebanyak 9 persen penduduk diatas 10 tahun yang buta huruf, sedangkan 75,86 persen bisa membaca huruf latin dan huruf lain 0,98 persen. Untuk penduduk yang bisa membaca huruf latin dan lainnya sebanyak 14,16 persen.


Angka Melek Huruf pada tahun 2004 sebesar 91,88 % dan menurun sebesar 87,47 % pada tahun 2005 atau menurun sebesar 4,80%. Pada  tahun 2006 sebesar 89,14 % atau meningkat sebesar 1,91 % . Pada pada tahun 2007 Angka Melek Huruf meningkat sebesar 92,7% atau meningkat sebesar 3,99 %. Pada tahun 2008 Angka Melek Huruf mengalami penurunan sebesar 89,67% atau penurunan sebesar 3,4%. Dan pada tahun 2009 Angka Melek Huruf menurun sebesar 34,12 % atau menurun sebesar 162,8 %.


Selain pendidikan, kesehatan merupakan salah satu bidang yang sangat penting dalam kesejahteraan karena keterkaitan antara kesehatan dan kesejahteraan sangat tinggi. Semakin tinggi tingkat kesehatan seuatu kelompok masyarakat maka dapat dikatakan tingkat kesejahteraannya juga semakin tinggi.


Pembangunan dibidang kesehatan harus dimulai dengan peningkatan mutu standar pelayanan kesehatan dengan penyediaan akses pelayanan kesehatan dasar dengan didukung oleh sumber daya manusia dibidang kesehatan. Di Kabupaten Sikka seperti disajikan dalam tabel  terlihat bahwa pada tahun 2010 terdapat 3 Rumah Sakit, salah satunya adalah R.S Swasta, sedangkan jumlah Puskesmas adalah 22 Puskesmas yang berarti bahwa hampir di setiap kecamatan telah menyediakan pelayanan Puskesmas. Jumlah tenaga kesehatan pada tahun 2010 dibedakan menjadi dokter spesialis, dokter umum, perawat, bidan , mantri dan lainnya. Jumlah dokter umum ada 41 orang dan dokter gigi 7 orang. Sedangkan perawat dan bidan mencapai 428 orang yang tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Sikka.


Salah satu penyakit yang paling banyak diderita oleh penduduk Kabupaten Sikka adalah malaria dengan jumlah kasus mencapai 19.763 kasus. Pada tabel disajikan juga mengenai data peserta KB aktif menurut kecamatan dan jenis alat kontrasepsi yang digunakan, terlihat bahwa kebanyakan peserta KB aktif menggunakan pil KB sebagai pilihan (18.951), hal ini bisa jadi disebabkan karena mudah dilakukan dan efek samping yang relatif kurang. Dibandingkan tahun 2009, peserta KB aktif mengalami kenaikan.


Dahulu kabupaten sikka merupakan Onder Afdeling yang kemudian menjelma menjadi "swapraja sikka" ( provinsi sunda kecil). Swapraja Sikka diperintah oleh seorang raja yang memerintah secara turun temurun.

Raja-raja yang pernah mengepalai Kerajaan Sikka adalah :


1. Jaman Pemerintahan Portugis :

  • Raja Don Alesu Ximenes da Silva
  • Ratu Dona Ines ( putri Raja Don Alesu Ximenes da Silva)
  • Raja Djudje Mbako I, yang terkenal dengan sebutan " Mbako Kikir Hiwa" artinya "Mbako Sembilan Jari"
  • Raja Prispin da Silva
  • Raja Don Luis Mbia da silva
  • Raja Thomas Mbo I

2. Jaman Pemerintahan Belanda :

  • Raja andreas djati da silva : 1874 - 1898
  • Raja Mbako II : 1898 - 1902
  • Raja J. Nong Meak da Silva : 1902 - 1922
  • Raja Don Thomas Ximenes da Silva : 1922 - 1947
  • Raja Don Thomas Ximenes da Silva : 1947 - 1954
  • Raja P.C.X. da Silva : 1954 - 1958

Sejak pemerintahan Raja J. Nong Meak da Silva  tahun 1902, maka sistem sentralisasi pemerintahan kerajaan masa lampau mulai di rubah dengan sistim desentralisasi.
Pada masa pemerintahan Raja Don Thomas yang dinobatkan sebagai raja Sikka pada tanggal 21 November 1923, maka sistim pemerintahan dijalankan dengan sistim pemencaran kekuasaan atau desentralisasi, sebagaimana yang di terapkan oleh raja sebelumnya.

Struktur pemerintahan kerajaan pada saat itu, raja dibantu oleh :
Dewan mo'ang 'liting puluh" atau sepuluh anggota dewan kerajaan 
2. Di bawah raja dan dewan tersebut ada semacam kepala distrik / gameente
yang disebut kapitan
3. Dalam wilayah gameente terdapat kampung - kampung yang masing - masing
di kepalai oleh seorang kepala adat atau di sebut tana puang

Sistim Kerajaan - Kerajaan sebelumnya :

1. Raja dan kapitan - kapitannya
2. Mo'ang 'liting puluh ( sepuluh tuan sebagai dewan perwakilan rakyat)
3. Mo'ang mangun lajar ( pemegang gading/bala mangun)

Dalam sistim sentralisasi pemerintahan, kapitan adalah merupakan suatu dewan yang terdiri dari 5 orang yaitu :

1. Kapitan Moor : pengurus keadilan/kehakiman
2. Kapitan Salaf : pengurus pertanian dan perdagangan
3. Kapitan Guarda : pegawai pribadi raja
4. Kapitan Alvares : pengurus keamanan
5. Kapitan Pontera : pengurus peperangan

Disamping kabinet ada pula " dewan penasehat" terdiri dari :

1. Teniti generaal : tuan tanah
2. Kumendati : syahbandar
3. Morenho : dewan gereja

Selanjutnya dengan sistim desentralisasi oleh Raja J. Nong Meak da sSlva, maka sistim pemerintahannya adalah sebagai berikut :

1. Raja memegang kekuasaan tertinggi
2. Kapitan (kekuasaannya di bawah raja)

Ada 17 orang kapitan dengan batas kekuasaan masing - masing (wilayah haminte). Dengan berlakunya undang - undang nomor 69 tahun 1958 (lembaran negara RI tahun 1958 nomor 122) tentang pembentukan daerah tingkat I bali, NTB dan NTT maka pada tanggal 1 maret 1958, daerah swapraja dijadikan DAERAH TINGKAT II dengan ibukotanya MAUMERE dengan kepala daerah pertama pada masa itu adalah D. P. C. ximenes da silva. Penyelengaraan pemerintahannya di dasarkan atas undang - undang nomor I tahun 1957 tentang pokok - pokok pemerintahan daerah.

Pada tahun 1967 daerah tingkat II sikka di ganti namanya menjadi " kabupaten sikka" dengan kepala daerahnya Laurensius Say. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur tanggal 22 pebruari 1962 Nomor pem.66/1/2 maka wilayah Kabupaten Sikka di bagi atas 5 buah kecamatan yaitu :

1. Kecamatan Maumere
2. Kecamatan Nita
3. Kecamatan Talibura
4. Kecamatan Kewapante
5. Kecamatan Paga

Selanjutnya berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur tanggal 20 juni 1963 nomor pem.66/1/32 maka wilayah Kecamatan Kewapante dan Nita dimekarkan menjadi :

1. kecamatan Kewapante : - Kecamatan Kewapante, Kecamatan bola
2. kecamatan Nita : - Kecamatan Nita, Kecamatan lela

Dengan adanya Undang - Undang Nomor 5 tahun 1974 tentang pokok - pokok pemerintahan di daerah, maka sebutan nama " DAERAH KABUPATEN SIKKA " diganti menjadi " Kabupaten Daerah Tingkat II sSkka " dengan penerapan azas "dekonsentrasi". Prinsip otonomi yang di anut adalah " otonomi yang nyata dan bertanggung jawab ". Bupati Kepala Daerah Tingkat II Sikka waktu itu adalahLaurensius Say.

Wilayah Swapraja Sikka dibagi dalam gemeente - gemeente. Tiap - tiap gemeente dikepalai oleh seorang gemeente yang disebut : "KAPITAN", yang tugasnya adalah mengkoordinir kampung - kampung. 


Tahun pembentukan Kabupaten Sikka adalah Tahun 1958.

Nama bupati pertama sampai sekarang adalah sebagai berikut :
1. D. P. C. ximenes da silva (1958 - 1960)
2. Paulus Samador da cunha (1960 - 1967)
3. Laurensius Say (1967 - 1977)
4. Drs. Daniel Woda Palle (1977 - 1988)
5. Drs. A. M. Conterius (1988 - 1993)
6. Alexander Idong (1993 - 1998)
7. Drs. Paulus Moa ( 1998 - 2003)
8. Drs. Alexander Longginus (2003 - 2008)
9. Drs. Sosimus Mitang (2008 - sekarang)

Tahun 1992 dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 29 tahun 1992, tanggal 26 Mei 1992, ditetapkan pembentukan Kecamatan Alok dengan ibukota Maumere.

Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Sikka Nomor 3 tahun 2000, tanggal 9 oktober 2000, maka dibentuk Kecamatan Mego dengan ibukota Lekebai, Kecamatan Waigete dengan ibukota Waigete, dan Kecamatan paluE dengan ibukota Uwa.

Sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Sikka Nomor 3 tahun 2005 tanggal 5 september 2005,dibentuk Kecamatan Magepanda dengan ibukota Magepanda sebagai hasil pemekaran dari Kecamatan Nita.

pada 2007 dilakukan Pemekaran Kecamatan Talibura, Kawapante, Bola, Alok, Maumere dan Kecamatan paga. Hasil pemekaran kecamatan dimaksud, yaitu :
  • Pembentukan Kecamatan Waiblama sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Sikka Nomor 1 tahun 2007 yang merupakan pemekaran dari Kecamatan Talibura.
  • Pembentukan Kecamatan Alok Barat dan Kecamatan Alok Timur sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Sikka Nomor 2 tahun 2007 yang merupakan pemekaran Kecamatan Alok dan penggabungan beberapa desa dari Kecamatan Maumere.
  • Pembentukan Kecamatan Koting sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Sikka Nomor 3 tahun 2007 yang merupakan pemekaran dari Kecamatan Maumere.
  • Pembentukan Kecamatan Tana Wawo sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Sikka Nomor 4 tahun 2007 yang merupakan pemekaran dari Kecamatan paga.
  • Pembentukan Kecamatan Hewokloang dan Kecamatan Kangae sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Sikka Nomor 5 tahun 2007 yang merupakan pemekaran dari Kecamatan Kawapante
  • Pembentukan Kecamatan Doreng dan Kecamatan Mapitara sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Sikka Nomor 6 tahun 2007 yang merupakan pemekaran dari Kecamatan Bola.
Hal - hal krusial dalam pemekaran diatas, yaitu :
  • Pengabungan beberapa desa dari Kecamatan Maumere ke Kecamatan Alok dan Kecamatan Alok Timur.
  • Pemindahan ibukota Kecamatan Kewapante dari Waipare ke Kewapante.
  • Perubahan nama Kecamatan Maumere menjadi Kecamatan Nelle.


Lambang Daerah Kabupaten Sikka mempunyai makna sebagai berikut :
  1. Mencerminkan latar belakang keagungan kebudayaan daerha Kabupaten Sikka.
  2. Mencerminkan keadaan geografis yang terdiri dari : kepulauan dan daratan yang bergunung - gunung serta potensi ekonomi yang meyakinkan.
  3. Mencerminkan semangat dan cita - cita rakyat untuk menciptakan manusia yang adil dan makmur dengan tetap berpegang teguh dengan pancasila sebagai falsafah bangsa dan dasar negara indonesia.
 
Arti Gambar Lambang Daerah :
  1. Motif sarung adat yang di ambil adalah satu motif sarung yang tertua di tana Ai / PALUE disebut "Tipa Tola/ Wua Wela" di Sikka Krowe di sebut "Pa Tola" dan di Lio unsur patola terdapat dalam "Lawo Redu".
  2. Emas yang menjadi tumpuan tangkai padi dan kapas adalah emas perhiasan yang di Palue di sebut "Koma" di Tana Ai dan di Sikka Krowe di sebut "Bahat Tibu" sedangkan di Lio di sebut "Ome Mbuli".
  3. Lidah api sebanyak tujuh buah. angka tujuh merupakan angka magis yang berarti berkesinambungan.
 

Statistik Web