SATU JUTA, BIAYA VAR KORBAN GIGITAN ANJING RABIES

Dibaca 36 kali Administrator Kamis, 01 November 2018 - 08:45:46 WITA Berita

Maumere.- Untuk korban gigitan Hewan Penular Rabies (HPR), dibutuhkan biaya Rp. 1.000.000 (satu juta rupiah) sebagai pembelian empat vial Vaksin Anti Rabies (VAR) pada manusia. Satu vial dibeli dengan harga Rp. 250.000.- sementara untuk korban gigitan HPR diberikan maksimal 4 kali suntikan.

Demikian hal ini disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, dr. Harlin Hutauruk saat memberikan materi pada Rapat Koordinasi Penanggulangan Rabies di Aula Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Rabu (31/10/2018) pagi.

Lebih lanjut Harlin Hutauruk menjelaskan bahwa pelayanan suntikan VAR kepada orang sebagai korban gigitan HPR diberikan secara gratis. Karena VAR telah diadakan Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka sebanyak 600 vial dan bantuan dari Dinas Kesehatan Propinsi ada 3.000 vial.

“saat ini Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka telah membuka lima Rabies Centre, yakni di Puskesmas Beru Kecamatan Alok Timur melayani semua wilayah yang belum ada Rabies Centre, Puskesmas Uwa Kecamatan PaluE untuk warga se Kecamatan PaluE, Puskesmas Watu Baing Kecamatan Talibura melayani warga Kecamatan Waiblama, Waigete dan Talibura, Puskesmas Lekebai Kecamatan Mego melayani warga Paga, Mego serta Tanawawo dan Puskesmas Bola Kecamatan Bola untuk Mapitara Doreng. Rabies Centre dibuka 24 Jam” demikian Harlin Hutauruk.

Sedangkan Kasie Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, A.S. Nong Erwin, SKM menghimbau kepada masyarakat agar bila tergigit HPR supaya segera melakukan tindakan mencuci luka gigitan dengan sabun deterjen pada air yang mengalir dan selanjutnya membawa korban gigitan ke Rabies Centre untuk mendapatkan suntikan VAR tahap satu.

Lanjut Erwin, dari Januari hingga Agustus 2018 sudah terdapat 890 kasus gigitan dan hanya 746 korban yang mendapat suntikan VAR. dijelaskan Erwin bahwa setiap korban kasus gigitan juga dilakukan screening dan dilakukan observasi bila potensi anjing pengigit negatif rabies maka pemberian suntik tidak diberikan atau dilanjutkan. Hingga saat ini sudah dua kasus kematian di Kecamatan Hewokloang dan di Kecamatan Talibura.

Sementara Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Ir. Henderikus Blasius Sali, menyebutkan bahwa sesuai data yang ada hingga 30 Oktober 2018, terdapat 40.145 ekor populasi HPR dan yang sudah divaksin baru 31.668 ekor HPR. Sisa 8.477 HPR belum divaksin karena ketiadaan vaksin. Dengan tiga kecamatan dengan kasus rabies tertinggi di Kecamatan Alok Timur, Kecamatan KangaE dan Kecamatan Kewapante.

“ kendala yang kita hadapi salah satunya adalah alokasi anggaran yang terbatas dan tenaga vaksinator yang masih kurang. Dan masalah lain yang dihadapi adalah masih ada warga yang tidak mau anjingnya divaksin” demikian Blasius Sali.

Guna mencegah penyebaran, kepada masyarakat dihimbau agar merelakan HPR seperti anjing, kucing dan kera untuk divaksin petugas. Selanjutnya HPR diikat atau dikandang guna membatasi interaksi HPR dengan HPR yang telah positif rabies, demikian Blasius Sali.

Rapat Koordinasi Penanggulangan Rabies dipimpin Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kabupaten Sikka dr. Delly Pasande dihadiri Para Camat se Kabupaten Sikka dan Unsur OPD. (John Oriwis)


Statistik Web