"Surat Pernyataan Bencana" Adalah Tanda Cinta Pemerintah Pada Rakyatnya

Dibaca 68 kali Administrator Rabu, 11 Oktober 2017 - 13:58:29 WITA Berita

Maumere.- “Surat Pernyataan Bencana” Adalah  Tanda Cinta Pemerintah Pada Rakyatnya (Kondisi Terkini Penanganan Rawan Pangan), demikian judul release yang diterima dari Kepala Bagian Humas Dan Protokol Sekretariat Daerah Kabupaten Sikka Ferdie Even Edomeko, S.Fil. pada Rabu (11/10/2017) siang.

Dalam Release dengan nomor Nomor: Hms.489/66/2017, dijelaskan Seperti pencuri, bencana datang selalu tiba-tiba. Apalagi bagi Kabupaten Sikka yang memiliki dua gunung api aktif, Rokatenda (meletus terakhir 10 Agustus 2013) & Egon (pada 13 Januari 2016 berstatus siaga), lautnya pernah terjadi tsunami (12 Desember 1992), dan iklim kering dengan musim hujan empat bulan (Desember-Maret) dan musim panas delapan bulan (April-November). Karena itu, Pemerintahan Daerah (termasuk DPRD) Kabupaten Sikka telah mempersiapkan diri untuk melindungi dan membantu masyarakatnya dari beragam bencana dan ancaman bencana itu.

“Surat Pernyataan Bencana” Bupati Sikka Drs. Yoseph Ansar Rera pada 27 September 2017, sebagai misal, adalah bukti cinta Pemerintah pada Masyarakat Kabupaten Sikka. Mengapa itu surat cinta? Bagaimana dengan penanganan kondisi rawan pangan saat ini? Ini ulasannya.

Sejak Januari 2017

Bencana alam di Kabupaten Sikka dimulai sejak Januari 2017. Cendana News melaporkan: sejak Desember hingga Maret 2017, telah terjadi bencana angin ribut, abrasi pantai, banjir dan longsor melanda 21 kecamatan di Kabupaten Sikka. Data kerusakan:  526 bangunan dapur, 14 kios, 9 rumah ibadah, 26  sekolah, 8 posyandu, 8 fasilitas umum lainnya; dan 2 orang meninggal dunia.  (http://www.cendananews.com/2017/03/1-900- rumah-di-sikka-rusak-akibat-bencana.html)

Kompas Online menulis, sejak 13 Maret hingga 16 Maret 2017 angin kencang melanda Flores, termasuk Kabupaten Sikka. Terjadi gempa bumi tektonik berkekuatan 4,7 skala Richter (SR) di Kabupaten Sikka, pukul 09.38 Wita. Pusat gempa 210 kilometer (km) timur laut Maumere di kedalaman 615 km. (http://megapolitan.kompas.com/read/2012/03/18/02382173/angin.kencang.landa.flores.satu.tewas).

Cendana Press menulis: Sebanyak 1.899 hektar tanaman pangan yang terdiri dari padi, jagung, kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar dan sorgum yang tersebar  di 21 kecamatan di Kabupaten Sikka mengalami kerusakan akibat angin kencang. Juga tanaman perdagangan: kemiri, cengkeh, jambu mente dan kakao. Untuk tanaman kemiri: rusak ringan 38.586 pohon, rusak sedang 3.344 pohon dan rusak berat 121.042 pohon. Cengkeh: rusak ringan sebanyak 7.530 pohon, rusak sedang 425 pohon dan rusak berat 3.560 pohon. Jambu mente: rusak ringan 796, rusak sedang 607 dan rusak berat 699.546 pohon. Kakao: rusak ringan 7.915 pohon, rusak sedang 20.811 serta rusak berat 61.831 pohon. Kelapa: rusak ringan 1.185 pohon, rusak ringan 743 pohon & rusak berat 591. Pala: rusak ringan 497 pohon, rusak sedang 304 pohon dan rusak berat 2.142 pohon. (http://cendanapress.com/3-735-hektar-tanaman-pangan-di-sikka-rusak-berat-akibat-bencana/)

Semua dampak bencana di atas telah dan sedang ditangani oleh berbagai instansi pemerintahan, bekerjasama dengan berbagai stakeholder, dalam koordinasi dengan Badan Penanggulangan Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka, hingga hari ini.

Rawan Pangan

Rusaknya tanaman pangan dan tanaman perdagangan milik masyarakat di triwulan pertama tahun 2017 itu diperparah oleh situasi ekstrim kemarau panjang saat ini, sehingga mengakibatkan kondisi hari ini: “rawan pangan”.

Tapi, apa artinya “rawan pangan”?  “Rawan Pangan” (food insecurity) merupakan kondisi kebalikan dari “ketahanan pangan” (food security).  Terdapat dua jenis kondisi rawan pangan, yaitu yang bersifat kronis (chronical food insecurity) dan yang bersifat sementara (transitory food insecurity).  Rawan pangan kronis merupakan kondisi kurang pangan (untuk tingkat rumah tangga berarti kepemilikan pangan lebih sedikit dari pada kebutuhan dan untuk tingkat individu konsumsi pangan lebih rendah dari kebutuhan biologis) yang terjadi sepanjang waktu.  Sedangkan pengertian rawan pangan akut atau transitory mencakup rawan pangan musiman (seasonal).  Rawan pangan ini dapat terjadi karena adanya kejutan (shock) yang mendadak dan tak terduga seperti kekeringan dan ledakan serangan hama, yang sangat membatasi kepemilikan pangan oleh rumah tangga, terutama mereka yang berada di pedesaan. 

Penting, kita samakan dahulu pengertian akan arti frasa “rawan pangan” ini, agar tidak gagal paham membaca dan menafsir berita tentang ini di media mana saja.

Intervensi Pemerintah

Instansi yang menangani rawan pangan adalah Dinas Ketahanan Pangan (DKP). “Kami membantu masyarakat sejak Maret 2017, mengatasi dampak bencana hancurnya tanaman pangan warga saat itu. Yaitu bantuan berupa 10.000 kg beras kepada 1000 KK pada 11 Desa di 5 Kecamatan,” jelas Kadis Pertahanan Pangan        Ir. Mauritius T. da Cunha. Bantuan tersebut diturunkan melalui Kegiatan Penanganan Daerah Rawan Pangan, pada akhir Maret 2017.

Tidak berhenti di situ. Ketika permintaan dari desa-desa bertambah, maka DKP menjawabinya melalui Kegiatan Pengembangan Cadangan Pangan Daerah Tahun 2017, yang direalisasikan dalam dua tahap.

Bantuan Tahap I terjadi pada April 2017, berupa beras sebanyak 2.025 kg yang diberikan kepada 2.003 KK pada 20 Desa di 8 Kecamatan.

Sesungguhnya, permintaan dari desa-desa melampaui cadangan yang disiapkan Pemerintah dan DPRD Sikka dalam APBD 2017. Permintaan itu mencapai 6.798 KK dari 33 Desa di 10 Kecamatan. Karena itu Pemerintah mengusulkan penambahan beras untuk bantuan Tahap II Kegiatan Pengembangan Cadangan Pangan Daerah mendahului Perubahan APBD 2017. Usul ini disetujui dengan penambahan beras sebanyak 70.000 kg, yang saat ini sedang dalam proses pengadaan oleh Pihak Ketiga. Ditargetkan ada 7000 KK yang terbantu dengan beras ini.

Hingga Rabu 11 Oktober 2017 ini, laporan dan permintaan dari desa-desa telah mencapai 9.709 KK yang tersebar di 39 Desa pada 12  Kecamatan. Dari jumlah itu, terdapat 743 KK dari 3 Desa di 2 Kecamatan yang membutuhkan penangan segera. Dan sudah dilayani pada 2 Oktober 2017, berupa beras sebanyak 7.430 kg.

Surat Pernyataan Bencana = Tanda Cinta Pemerintah pada Rakyat

Dari uraian di atas,  kita belum melihat peran BPBD dan Dinas Sosial Kabupaten Sikka, sebagai instansi yang juga bertugas menangani bencana. Mengapa? Karena menurut peraturan/perundangan yang berlaku kini, bantuan yang diberikan oleh Dinas Sosial dan BPBD (yang menggunakan dana dari Pusat) harus didasarkan atas “Surat Pernyataan Bencana” oleh Bupati.

Bupati tidak harus mengeluarkan surat itu. Cukup dengan memenuhi permintaan Dinas Ketahanan Pangan dari dana APBD, rakyat toh bisa terbantu. Tapi tidak. Kesejahteraan Rakyat adalah tujuannya mengabdi. Maka pada tanggal 27 September 2017, Drs. Yoseph Ansar Rera menandatangani “Surat Pernyataan Bencana”, yang menyatakan bahwa Kabupaten Sikka dalam Status Keadaan Darurat  selama empat belas hari, dari tanggal 27 September 2017 sampai dengan 10 Oktober 2017.

Surat Pernyataan Bencana itu adalah tanda cinta Pemerintah pada Rakyatnya, karena berdasarkan surat itulah Dinas Sosial (Dinsos) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dapat menggunakan dana Pusat (dari APBN) untuk membantu warga mengatasi kerawanan pangan ini, hingga musim panen nanti. Tanda cinta itu bukan saja kepada Rakyat yang terpapar bencana, tapi juga seluruh Rakyat Kabupaten Sikka, karena struktur APBD 2017 tidak terganggu karena dananya dialihkan untuk urusi rawan pangan ini.

Berdasarkan Surat Pernyataan Bencana Bupati itu, BPBD telah menurunkan bantuan kepada 16 KK di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama. Dan Dinsos telah menyalurkan bantuan beras sebanyak 4.323 kg kepada 1544 jiwa pada 386 KK di Desa Bloro (Kecamatan Nita) untuk 7 hari dan beras sebanyak 1444 kg kepada 516 jiwa pada 129 KK di Desa Nita untuk 7 hari. Bantuan diberikan selama 2 minggu ini.

Rencana Tindak Lanjut

Komitmen Pemerintah Kabupaten Sikka kini adalah tetap terus membantu masyarakatnya hingga musim panen tiba. Bantuan itu tidak saja meliputi ketahanan pangan yang bersifat karitatif, tetapi terutama pendampingan pemberdayaan ketahanan pangan dan pertanian serta pekebunan secara terpadu dan intensif.

Bersama itu, Surat Pernyataan Bencana berakhir pada Selasa 10 Oktober 2017 kemarin.  Jika masyarakat masih membutuhkan bantuan dari APBN, maka kita harap Bupati Sikka berkenan memperpanjang masa darurat itu… demi cintanya kepada RAKYAT.***

 


Statistik Web